• Home
  • Edit
  • Berbagi Info: Motivasi
    Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

    Kamis, 09 April 2015

    5 Contoh Tanda Tangan yang Sebaiknya Dihindari Pebisnis

    Tanda tangan (signature) adalah suatu bentuk sidik jari (fingerprint) manusia yang dituangkan dalam karakter tulisan (goresan pena). Tanda tangan merupakan simbol identitas diri seseorang dan dianggap seperti segel. Setiap orang tentu memiliki karakter tanda tangan yang khas, unik, dan berbeda dari lainnya. Demikian juga dengan Anda! Namun, apakah bentuk goresan tandatangan anda telah memiliki aura positif atau hoki untuk karir atau bisnis anda?

    Banyak orang percaya bahwa sebuah coretan paraf yang menjadi karakteristik goresan tangan seseorang dapat menentukan bagaimana perjalanan kariernya. Ilmu membaca karakter tanda tangan ini disebut dengan Grafologi, dan para ahlinya disebut Grafologis. Para graphologist biasanya mendeskripsikan karakter tanda tangan seseorang dengan mengamati bentuk tulisan, tebal tipis goresan, coretan garis lurus dan lengkungan, posisi titik, karakter special, dan sebagainya. Jika diprediksi kurang baik, grafologis akan memberikan saran untuk mengubah atau mengganti bentuk tanda tangan yang tepat. Nah, dikutip dari handwritinguniversity.com, inilah lima contoh bentuk tanda tangan yang sebaiknya anda hindari untuk diterapkan:
    1. Model Tanda Tangan Tercoret
    tanda tangan usaha
    Bentuk tanda tangan dengan karakter tercoret, baik secara vertikal maupun horizontal, adalah konsep tandatangan yang kurang baik. Coretan berupa garis lurus tegas, mendatar maupun vertikal, yang menutupi karakter utama tanda tangan anda mengandung unsur negatif, yaitu mencirikan kurang percaya diri dan suka menyalahkan (diri sendiri, orang lain, ataupun keadaan lingkungan). Oleh sebab itu, sebaiknya hentikan coretan garis melintang tersebut atau ubah posisinya menjadi di bawah karakter utama sebagai perwujudan pondasi rasa confidence anda!
    2. Karakter Tanda Tangan yang Terlalu Kecil
    Ukuran sebuah tanda tangan yang digoreskan pada kertas umumnya memiliki tinggi 2-3 baris pada buku tulis biasa (buku tulis siswa).
    paraf bisnis
    Hal ini tentu tidak baik bagi jenjang karier anda. Jadi, usahakan memperbesar ukuran tanda tangan anda, tapi jangan terlalu besar sehingga melebihi ukuran karakter tanda tangan bos anda.
    3. Goresan Tanda Tangan Kembali (Berbalik Arah)
    Dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah Trace-Back Signature. Banyak orang yang memiliki karakter tanda tangan seperti ini. Ketika ia menggoreskan tanda tangan dari kiri ke kanan, kemudian dilanjutkan lagi (tanpa mengangkat penanya) berbalik arah membuat garis bawah dari kanan ke kiri. Dalam grafologi, hal ini mencerminkan sikap kehidupan yang selalu dibayangi oleh masa lalu.
    tanda tangan yang hoki
    Namun terkungkung masa lalu hanya akan membuat kita tidak berani melangkah sehingga sulit mengembangkan karir dan bisnis kita. Jadi cobalah membiasakan membuat karakter garis bawah dari kiri ke kanan, bila konsep tanda tangan anda dari kiri ke kenan!

    4. Bentuk Tanda Tangan Kamuflase
    Kamuflase bermakna samar-samar yang mendeskripsikan ketidakjelasan langkah kita. Pada contoh gambar ini diperlihatkan karakter awal terkesan kurang jelas karena mencirikan sebagai huruf a atau o. Selain itu, konsep lingkaran yang mengawali wujud paraf tersebut dimaknai oleh para grafologis sebagai upaya protektif dan defensif yang berlebihan sehingga sulit bergaul dengan orang baru. Hal ini tentu kurang bagus bagi seorang entrepreneur dalam membangun dan mengembangkan jaringan bisnisnya.
    5. Coretan Cakar Ayam
    Apakah anda pernah melihat jejak cakar-cakar ayam di atas tanah? Apakah goresan cakar ayam tersebut mirip dengan tanda tangan anda? Banyak orang yang memiliki bentuk tanda tangan seperti tulisan cakar ayam. Jika anda melihat gambar ini, nampak bahwa karakter tanda tangan tersebut terkesan dibuat terburu-buru. Dalam dunia kerja, hal ini mengindikasikan bahwa orang tersebut memiliki karakter tergesa-gesa namun tidak mampu menyelesaikan tugas yang diembannya, sehingga sering dianggap sebagai orang yang kurang bertanggung jawab. Jadi, ubahlah bentuk tanda tangan anda agar terlihat menyatu, pelan tapi pasti!
    Tips membuat tanda tangan yang bagus:
    Buatlah karakter tanda tangan yang mencerminkan nama anda, dengan tulisan yang konsisten dan dapat dibaca. Hindari mencoret (melintang)  tanda tangan anda, dan biasakan jika membuat garis bawah (pondasi) searah dengan awal anda menulis. Selain itu, ukuran tanda tangan sebaiknya lebih besar dari tulisan biasa anda. Banyak orang sukses yang memiliki bentuk tanda tangan dari kiri ke kanan dengan sedikit agak miring ke atas yang mencerminkan semangat dan optimisme.
    Demikian sekilas tentang seluk-beluk membubuhi tanda tangan. Artikel ini tidak menjamin kebenaran mutlak karena sukses dan tidaknya seseorang ditentukan oleh banyak faktor. Tapi, artikel ini hanya sebagai bahan inspirasi untuk kehidupan karir dan bisnis anda. Untuk informasi mendatail tentang makna dari sebuah goresan tanda tangan, silahkan konsultasikan dengan seorang graphologist. Salam kerja & usaha!!!
     
    sumber: http://www.kerjausaha.com/2013/12/5-contoh-tanda-tangan-yang-sebaiknya.html

    Rabu, 01 April 2015

    Berapa Besar Gaji yang Harus Anda Peroleh untuk Bisa Hidup dengan Layak?

    Setiap tahun kita berharap gaji yang kita terima atau pendapatan dari usaha yang kita jalankan, bisa terus meningkat. Sebab, hey, harga barang-barang di sekitar kita terus merayap naik. Dan diam-diam tanpa kita sadari, selama ini pendapatan kita secara riil terus merosot gara-gara digerus angka inflasi yang tak kunjung henti.
    Lalu, berapa penghasilan atau pendapatan minimal yang harus kita peroleh untuk bisa hidup secara layak, ditengah kepungan angka inflasi yang tak pernah kunjung berhenti menari? 10 juta per bulan? 15 juta? Atau 30 juta? Mari kita sejenak luangkan waktu untuk dengan sungguh-sungguh menghitung berapa banyak kebutuhan hidup kita – demi meraih kehidupan yang penuh sejahtera nan bahagia……
    Sebelum menelisik angka demi angka yang tersaji, ada sedikit catatan yang perlu dikedepankan. Hidup layak dalam bayangan saya adalah hidup yang cukup nyaman, mapan, dan tidak kekurangan secara finansial. Sebab dengan itu Anda baru bisa menikmati hidup dan tidur dengan nyenyak. Sebaliknya, jika Anda masih serba kekurangan, atau apalagi tiap bulan dimaki-maki debt collector lantaran tagihan kartu kredit yang macet; maka itu artinya Anda masih belum hidup layak (bahasa kampungnya : financially incompetent).
    Perhitungan disini mengambil asumsi bahwa Anda sudah berkeluarga dengan dua anak (kalau Anda belum berkeluarga, maka angka-angka dibawah inilah yang kelak harus Anda penuhi). Mari kita mulai dengan biaya untuk kebutuhan hidup sehari–sehari.
    Biaya Kebutuhan Hidup Sehari-hari
    Berapa biaya kebutuhan hidup sehari-hari untuk sebuah keluarga dengan dua anak di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya atau Medan? Kebutuhan sehari-hari adalah untuk makan (diselingi sebulan sekali makan sekeluarga di mal); untuk membayar iuran keamanan, bayar listrik, air PAM, langganan koran, beli sabun, rinso, odol, dan juga jajan/uang saku anak-anak serta sumbangan kanan kiri. Estimasi saya, Anda mesti mengeluarkan uang sejumlah Rp 4 juta per bulan untuk kebutuhan ini.
    Biaya Pendidikan Anak
    Oke, sekarang banyak sekolah SD Negeri yang gratis dan murah meriah (lantaran anggaran pendidikan yang meroket). Namun kalau Anda ingin menyekolahkan anak Anda di sekolah swasta yang kredibel (seperti Al Azhar, Lab School atau sejenisnya), plus kursus ini itu, maka dengan dua anak kita akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 juta/bulan untuk investasi masa depan ini.
    Biaya Transportasi dan Komunikasi
    Tarif tol terus merambat naik dan kemacetan makin membuat penggunaan bensin boros. Dengan asumsi Anda membawa mobil ke kantor, dan biaya bensin ndak ditanggung oleh kantor; maka kita bisa menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta per bulan untuk bensin, tol dan biaya parkir. Ditambah pengeluaran pulsa telpon dan langganan internet speedy, kita akan spend sekitar Rp 2 juta untuk pos ini.
    Biaya Kredit Mobil
    Beruntunglah Anda yang mendapat fasilitas car ownership dari kantor Anda…..Sebab jika tidak, atau kalau ingin menambah mobil sendiri lagi, Anda mesti mengalokasikan anggaran sekitar 130 – 200 jutaan (inilah uang yang mesti kita keluarkan untuk mobil bagi keluarga muda seperti Avanza, Toyota Rush, atau Nissan Grand Livina). Jika Anda membelinya dengan kredit (65 % masyarakat kita membeli mobil dengan kredit) serta dalam jangka 5 tahun; maka itu artinya kita mesti mengalokasikan dana sekitar Rp 4 juta per bulan untuk keperluan ini.
    Biaya Kredit Rumah
    Anda tidak ingin selamanya tinggal di Pondok Mertua Indah, bukan? Beruntung kalau Anda dapat warisan rumah tinggal dari bokap atau nyokap. Sebab, tempo hari saya melihat iklan sebuah rumah mungil ukuran 4 L (lu lagi lu lagi karena saking kecilnya ukuran rumah) untuk keluarga muda di area BSD (Bekasi Sono Dikit, maksudnya) sudah mencapai harga sekitar 400 juta-an. Dengan jangka waktu 10 tahun, dan dengan suku bunga yang alamak kok makin melangit, maka Anda harus mengeluarkan sekitar Rp 4 juta untuk kredit “istana peristirahatan” Anda yang lu lagi lu lagi ini.

    TOTAL : Rp 15 juta per bulan
    . Ya, angka inilah jumlah total dari rincian pengeluaran diatas. Dan angka inilah yang menurut saya merupakan jumlah minimal yang harus Anda berdua penuhi untuk bisa membangun keluarga yang layak dan kredibel di kota besar. Bagi Anda yang sudah mendapat penghasilan diatas angka 15 juta/bulan – congratulation. Bagi yang belum, maka segeralah berpikir keras dan ambil action untuk mencari cara memperoleh extra income (dengan halal tentunya).
    Berpikirlah secara kreatif untuk bisa menambah income. Lalu berikhtiar-lah dengan tekun, sebab Tuhan itu Maha Kaya. Kalau Anda kompeten, kreatif, dan tekun berusahan plus tekun berdoa, insya Allah rezeki yang barokah akan mengalir pada Anda. Think positive. Be optimistic 

    sumber: http://strategimanajemen.net/2008/11/17/berapa-besar-gaji-anda-untuk-bisa-hidup-dengan-layak/

    NOTE: Jika gaji Anda belum cukup, dan ingin menambah penghasilan sampingan yang layak, silakan KLIK DISINI.

    Rabu, 11 Maret 2015

    Gatot Prawiro, Tak Pernah Bermimpi Bekerja di Perusahaan Multinasional (Motivasi Kerja Luar Biasa)

    Tidak terpikir sebelumnya oleh pria kelahiran 17 Juli 1962 ini bahwa dirinya akan bekerja di perusahaan multinasional seperti General Electric (GE). Namun, berkat prestasinya, saat ini Gatot Prawiro menempati posisi puncak sebagai Regional Executive Jenbacher Gas engine GE Energy Asia Pasifik.
    Dengan jabatan strategis yang diemban sejak Desember 2009 itu, Gatot membawahkan GE Energy di sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, Filipina, Thailand, Singapura, Australia, Selandia Baru dan Fiji. “Saya pemimpin bisnis Janbacher di Asia Pasifik. Bagi saya ini menantang sekali karena kliennya berbeda kultur. Tentunya, tiap-tiap negara ada perbedaan dalam penanganannya,” Gatot mengungkapkan.
    Sebagai gambaran, Janbacher adalah perusahaan penghasil mesin Jenbacher, mesin yang mampu mengubah kandungan gas menjadi energi yang bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Jenbacher adalah perusahaan yang dibeli GE. Sejatinya, posisi yang dijabat Gatot merupakan posisi baru. Sebelumnya, Jenbacher ditangani dalam unit tersebar dan kini menjadi unit bisnis tersendiri. Karena produk yang ia tangani, unit bisnis yang ia pimpin itu memiliki tim penjualan dengan pembagian wilayah: Asia Utara, Asia Tenggara, dan Australia-Selandia Baru. Dan, dalam pemasarannya, pihaknya menggunakan sejumlah distributor di tiap negara yang strategis. “Melaui distributor itulah kami menjual, memasang dan juga menyervis mesin yang kami pasarkan,” ungkap pria yang ketika remaja tinggal di Inggris ini.
    Gatot bukan orang baru di GE. Tahun 1995, ia mulai berbagung dengan GE Power System — sekarang GE Energy– sebagai Manajer Pengembangan Pasar. Kliennya di GE mirip seperti kliennya ketika ia bekerja di perusahaan sebelumnya, PT Techindo Import, yang menjual genset atau mesin diesel kepada kliennya, seperti PLN dan Goodyear.
    Setelah dua tahun di GE, ia dipromosikan sebagai Country Leader Indonesia di GE Power System. Karena Indonesia terkena dampak krisis Asia di 1998, maka tahun 1999 ia dipindahkan ke Schenectady, New York, Amerika Serikat. Di Negeri Abang Sam itu, ia didapuk menjadi Manajer Komersial GE Power System. Schenectady merupakan kantor pusat GE Power System. Lalu, pertengahan 2000-01, ia kembali ke Indonesia, menjabat sebagai Country Manager GE Power System.
    Nah, pada pertengahan 2001 Gatot kembali ke AS dan mulai beristirahat dari GE. Di negeri tersebut dirinya terpanggil untuk melakukan pelayanan gereja. Tahun 2003, ia kembali ke Indonesia. Tak lama kemudian ia bergabung dengan Nokia Network Indonesia. “Di sini saya diangkat sebagai Direktur Network Nokia,” kata sarjana lulusan Jurusan Teknik Mesin Bristol Polytechnic, Inggris, ini mengenang.
    Gatot mengakui dirinya banyak belajar dari pengalaman bekerja di Nokia, seperti mengasah keahlian manajerial dan kepemimpinan. Kala itu, ia memimpin 95 orang. Bahkan, anak buahnya dari berbagai negara, seperti Filipina, Finlandia, India dan Jerman. Itu ia lakoni hingga 2004. “But still….ternyata DNA saya ada di listrik,” ujarnya. Sempat juga ketika itu, ia ingin mengadu nasib dengan membuka usaha sendiri di bidang energi yang menggunakan energi matahari. Untuk mendapatkan informasi tentang energi itu, saat itu ia sering menyambangi Perusahaan Listrik Negara (PLN).
    Berasal dari sanalah, kepulangan dirinya ke Indonesia langsung diketahui oleh banyak pihak yang dulu sempat berhubungan. Nah, kebetulan ada mantan karyawannya di GE yang membuka perusahaan head-hunter, yang kemudian menawari Gatot agar kembali bergabung dengan GE. Akhirnya, Gatot terdampar kembali di GE sejak Mei 2005 sebagai Country Executive GE Energy Indonesia. “Tugas saya adalah mengawasi segalanya di bawah GE Energy Indonesia agar berjalan sesuai jalurnya,” kata peraih gelar M.Sc. Teknik Mesin dari Cranfield Institute of Technology Inggris ini.
    Dan, pada 2008, ia mulai menjabat sebagai Country Executive GE Energy untuk empat negara: Indonesia, Malaysia, Filipina dan Brunei. Nah, sejak Desember 2009, ia dipromosikan untuk menduduki posisi sekarang ini. Sebagai regional executive yang membawahkan wilayah Asia Pasifik, ada dua tugas utama yang diembannya. Pertama, memasuki pasar lebih dalam lagi. Pasalnya, ketika ia mulai memimpin bidang ini, sudah ada hampir 1.000 mesin Jenbacher yang tersebar di Asia Pasifik.
    Kedua, membuka pasar baru. Misalnya, sebelum ia memimpin bidang ini, tidak ada wacana coal bed methane (CBM). Nah, sejak awal bergabung, Gatot mengaku sudah mempersiapkan diri untuk mengelolanya. CBM terdapat di lapisan bawah batu bara. Karena terlalu dalam, CBM tidak bisa diperoleh dengan ditambang. Batu bara itu terjepit gas metana. Cara mengeluarkannya adalah mengebor sampai 800 meter ke bawah dari permukaan bumi.
    Ketika dibor, air yang berada di lapisan tanah itu harus dipompa. Air itu sebetulnya yang menahan gas untuk keluar. Air itu disedot dan ketika penyedotan dilakukan, gas metana bisa ikut tersedot. Saat itulah mesin Jenbacher bekerja mengolahnya menjadi tenaga listrik. Menurutnya, bisnis ini potensial karena di Indonesia kandungan CBM-nya melebihi kandungan LNG.
    Sekarang, sudah mulai banyak pengeboran dilakukan secara umum oleh perusahaan. Tak mengherankan, ada 21 kontrak yang ditandatangani perusahaannya yang berkaitan dengan penyedotan gas. “Dari awal saya sudah melihat potensi itu. Pada dasarnya itu akan menambah jualan mesin di ladang yang sama. Kami bisa masuk ke daerah batu bara untuk memproduksi gas,” ungkapnya.
    Gatot meyakini, pertumbuhan dua digit masih bisa dihasilkan dalam bisnis Jenbacher. “Angka setiap negara tidak bisa kami sebutkan,” katanya. Yang pasti, Indonesia, Australia, Thailand dan Filipina merupakan empat negara yang berpotensi dalam target pasarnya. “Tadinya kami melihat Filipina tidak ada harapan. Setelah kami teliti lagi, kapasitas mesin kami bisa memproduksi gas kecil.”
    Lalu, apa kiat Gatot bisa memiliki karier cemerlang? “Di mana pun kita bekerja, kalau kita membawa hati kita, pasti pasar melihat kita yang penuh dengan semangat,” katanya memberi nasihat. Artinya, menjaga reputasi itu superpenting. “People will get to know us as a nice person,” ia menegaskan. Namun, sebaliknya, kalau ingin membangun citra sebagai orang tukang tipu, selesai sudah. Klien juga kapok.
    “Tahu tidak julukan salah satu Direktur PLN yang sudah almarhum pada saya apa? Dia suka bertanya, ‘Mana supplier kita yang sastrawan itu’,” katanya sambil tertawa lebar. Mengapa begitu? Soalnya, sebagai supplier, dirinya datang seperti seorang akademis dengan visi seperti ingin membangun. Kepada siapa pun pelanggan yang ia datangi, Gatot selalu bilang, “How can I help you?” Ia menceritakan, “Saya tidak datang dengan pertanyaan langsung, ‘Saya dengar Anda membutuhkan sekian megawatt listrik. Saya punya barang yang supercanggih harganya sekian.’ Saya tidak begitu.” Hal itu ia lakukan karena dirinya berhadapan dengan manusia sehingga sangat penting untuk lebih bersikap manusiawi.
    Gatot teringat teori yang pernah ia pelajari mengenai lingkaran emas. Pada lingkaran terdalam terdapat pertanyaan why, kemudian lingkaran berikutnya how, what. Nah, menurutnya, kebanyakan dari kita kalau berjualan lebih pada menjalankan what-nya. Padahal, manusia tidak terkoneksi dengan what-nya, bahkan tidak di how-nya. Misalnya, seseorang berjualan alat yang canggih ini karena ini dan itu. Nah, unsur penyebab masuk pada how. Sayangnya, tidak masuk pada why. Padahal, yang membuat manusia bergerak untuk memutuskan adalah why-nya. “Itu sudah masuk pada keyakinan. What I do today is because is I believe,” ia menuturkan.
    Gatot pernah mengatakan sesuatu pada timnya pada tahun 2007 ketika GE sedang krisis. Dan, justru pada 2008 GE bisa bangkit. “Saya bilang sama teman saya, ‘Ketika kita bangun di Senin pagi, janganlah kita berpikir hal-hal kecil. Berpikirlah pada hal-hal besar yang bisa kita bangun, seperti saya ingin membangun negara ini’.”
    Jadi, untuk apa kita berada di sini? Ya, untuk hal-hal yang besar. Karena kalau berpikir kita berada di sini hanya semata kantong kita, perut kita, itu tidak cukup besar untuk tantangan yang akan dihadapi. “Jadi, kalau kita berpikir, gua bekerja di sini untuk mendapatkan gaji akhir bulan yang cuma sekian rupiah, ya gak bangun. Kenapa? Karena kita gak excited. Tapi kalau kita bangun, dan berjanji dalam hati bahwa hari ini kita akan melakukan sesuatu yang besar, I will do my part. Itu kan suatu visi yang lebih besar. Bahwa kita adalah bagian dari gambaran yang lebih besar lagi,” ujarnya panjang lebar.
    Itu sangat penting. Dan itu masuk dalam why-nya. Bahwa, manusia akan bergerak kalau sudah kena hatinya. “Saya juga tidak sengaja menemukan cara seperti ‘How can I help you’. Padahal, saya juga tidak mempelajari buku-buku motivasi,” ungkapnya.
    Gatot pun tidak mau kalau tim yang dipimpinnya bekerja karena aturan, hukuman, atau bahkan karena adanya reward. Memang ada betulnya kalau tak terukur, tidak akan dikerjakan, dan sebuah perusahaan memang perlu seperti itu. Namun, sesuatu yang dikerjakan yang berasal dari hati akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar lagi.
    Ia mencontohkan The Wright Brothers, yang mampu membuat mesin yang bisa terbang. Di satu sisi, saat itu Pemerintah AS menggaji seseorang untuk menciptakan the flying machine. Namun, begitu Wright Bersaudara berhasil membuat cikal bakal pesawat terbang, orang yang khusus dipekerjakan tadi diberhentikan. Mengapa? Karena, mereka bekerja semata karena gaji. Tidak menggunakan passion. Itulah mengapa perlu membakar dan meng-encourage karyawan untuk bekerja dari hati. “Tentunya kalau sudah bekerja dari hati, jangan dieksploitasi dong. Jangan disemena-menakan dong. Tentunya, gaji dan reward-nya juga harus bagus,” ucapnya.
    Hal itulah yang selalu Gatot tekankan pada anak buah di Asia Pasifik. “Kalau ada yang bilang. ‘Don’t take it personally’, oh justru saya akan melakukan yang berkebalikannya, take it personally, take it heart. Because you can change the world if you can do work from the heart,” katanya mengungkap prinsip kerjanya. Dengan prinsip itulah, Gatot berhasil menempati posisi puncak di perusahaan multinasional.

    Dede Suryadi dan Rias Andriati
    Riset: Evi Amanayati


    sumber: http://swa.co.id/sajian-utama/gatot-prawiro-tak-pernah-bermimpi-bekerja-di-perusahaan-multinasional

    Selasa, 20 Januari 2015

    7 Fakta "Menyesatkan" Ajaran Bob Sadino dalam Berbisnis (Yang Wajib Anda Ketahui)



    "Sebelum membaca ini, persiapkan mental dan pikiran anda, jangan langsung menarik kesimpulan. Semua pilihan kembali kepada diri anda masing-masing! selamat membaca" :)

     ***

                  Siapa yang tidak mengenal Bob Sadino ( biasa di panggil Om Bob) icon bisnis dan motivasi yang sudah banyak menghiasi dinamika bisnis di Indonesia. Bob Sadino dikenal blak-blakan dalam menyampaikan seminar Bisnis, dan selalu tampil dengan ciri khasnya yaitu celana pendek. Beberapa kali mengikuti seminar dan diskusinya, Anda pasti akan merekam statement-statement keras yang barangkali tidak lazim bagi Anda. Statement yang menyebabkan kontroversi, dan bahkan menyebabkan beberapa mahasiswa akhirnya keluar dan berhenti dari bangku kuliah. Siapa Bob Sadino? Saya tidak akan membahas lebih dalam, Anda bisa search di google. Sebagai orang yang cerdas, apa yang disampaikannya terkadang tidak masuk diakal dan tidak logis. itulah sebabnya Anda, apalagi yang masih belum banyak mengenal seminarnya beliau, harus menelaah dan mencermati apa maksud ungkapan beliau dan apa yang terkandung dari statement yang beliau sampaikan. Selama mengikuti beberapa kali seminar yang beliau sampaikan, berikut ada beberapa catatan saya pribadi, yang menurut saya ‘menyesatkan’ jika kita menelan mentah-mentah apa yang disampaikan. Ini merupakan pendapat saya pribadi, Anda boleh sependapat boleh juga tidak, itu hak Anda, coba simak statement yang sering beliau ungkapkan berikut ini.

    1. Jika Ingin Bahagia (Sukses) Jangan Jadi Karyawan. 

    Ketika mengikuti seminar di semarang, salah satu statement yang membuat gemuruh peserta adalah, bahwa.. "jika ingin bahagia (sukses) jangan jadi karyawan..” padahal audience dari seminar itu adalah sebagian karyawan.. Statement beliau ini menurut saya, tidak salah. Namun juga tidak sepenuhnya benar. Kebahagian dan kesuksesan itu tidak semata-mata diukur dari banyaknya materi, dan apa profesi seseorang. Lalu apakah hidup sebagai karyawan itu tidak bahagia? Tidak juga. Banyak karyawan yang bahagia dengan segala kondisinya. Tentu parameter kebahagian berbeda, beda setiap orang. Apakah statement ini salah? Tidak juga.. memang peluang mencapai kebahagian dengan keberlimpahan materi akan lebih terasa jika kita menggapainya melalui bisnis, melalui dagang dan sukses. Tetapi tidak sedikit juga pengusaha yang terlilit hutang dan akhirnya sengsara. Sekali lagi pilihan sukses dan bahagia itu bergantung yang menjalani. Tentu dengan konsekuensi masing-masing memang dengan berbisnis, peluang seseorang untuk mencapai puncak kebahagian jauh lebih terbuka.

    2. Kuliah Itu Gobl*K-Siapa Yang Hadir Di Seminar Ini, Besok Jangan Masuk Kuliah. 

    Masih di seminar dikota yang sama, beliau secara terang-terangan menyampaikan kalau kuliah itu kegiatan Gobl*k, besok jangan masuk kuliah. Sangat frontal memang, menyampaikan statement seperti itu didepan ratusan mahasiswa dan akademisi. Tentu saja banyak audience yang kemudian heboh dengan sendirinya, maklum sebagian peserta seminar itu adalah anak muda yang polos, lugu, dan baru semangatnya mencari jatidiri di kampus tercinta.. mendengar statement itu tentu batinnya berontak.. Namun kalau kita mau berpikir mendalam, apa yang disampaikan om Bob ini
    sebenarnya sangat masuk akal. Namun bagi sebagian orang ini justru menyesatkan, apalagi bagi MABA (mahasiswa Baru). Maksud saya, jika Anda ingin mencapai karir bisnis Anda dengan otodidak dan belajar berjualan sablon printing, misalnya ( seperti yang banyak dilakukan MABA saat membuat bisnis plan ) terus apa gunanya kuliah, kalau yang dipelajari adalah science. Maka apa istilah yang tepat kalau bukan Gobl*k (versi bob sadino) . Contoh lagi, bisnis di bidang hiburan padahal kuliahnya psicology, bisnis di bidang desain padahal kuliahnya di MIPA, bisnis makanan padahal kuliahnya di TEKNIK, bagaimana gak Gobl*k.. apa yang susah-susah di pelajari, tidak dipakai dalam bisnis. Lalu bagaimana seharusnya?

    3. IPK Diatas 3 Koma Alamat Calon Karyawan. Satu fakta yang menarik, kata dia.

    Kalau kuliah kok IPKnya diatas 3, itu tandanya calon karyawan. Hmm, sangat masuk akal. Karena kecenderungan orang yang memiliki IPK bagus apalagi di Fakultas Favorit, tentu memiliki idealisme tinggi, mengaplikasikan ilmunya. Tidak lain adalah melamar kerjaan, di perusahaan dan menjadi karyawan. Itulah mengapa justru bob sadino mengajarkan, kalau mau sukses bisnis IPK harus jeblok. Tidak salah sih.. karena dengan demikian tidak memiliki pilihan lain selain berwirausaha, karena kalaupun mau melamar kerja juga tidak ada yang menerima karena IPKnya dibawah standart, justru dengan demikian akan ‘terpaksa’ memilih jalan entrepreneur. Lalu apa jadinya kalau IPK diatas 3, kemudian memilih berbisnis… Ada, tapi sangat sedikit.. sekali lagi Life is a choice.. secara logika harusnya yang IPKnya diatas 3 ini juka diaplikasikan dalam bisnis harusnya lebih bagus lagi hasilnya.. bukankah begitu?

    4. Kuliah Itu Hanya Memasukkan ‘Sampah’ Ke Kepala Anda

    Salah satu Fakta yang menyesatkan lainnya adalah “ Kuliah itu memasukkan ‘Sampah’ ke kepala Anda. Bagi setiap orang yang masih kuliah mendengar statement ini pasti protes, tidak terkecuali peserta seminar yang notabene masih kuliah. Mereka merasa apa yang dilakukan setiap hari berarti memasukkan sampah kekepala mereka..? apakah ini salah?, tidak juga.. karena memang apa yang dipelajari itu tidak dipakai di kemudian hari, jika kita bercita-cita menjadi bisnisman sukses sepertia om Bob. Apa sebabnya? Bob Sadino meniti karir bisnisnya dari Nol, dan mempelajarinya dari lapangan, dari pengalaman dan dari percobaannya sendiri. Makanya saat mempelajari sesuatu di bangku kuliah sementara apa yang dipelajari itu tidak dipakai maka apa yang dipelajari itu menjadi sampah bagi otak kita. Satu statemen yang menguatkan ini adalah bahwa dia berpesan, “jadilah manusia pembelajar”. Jangan hanya dari bangku kuliah, tapi pelajarilah dari kuliah kehidupan yang Anda jalani.

    5. Kalau Ingin Kaya, Bisnis Sayuran

    Haha.. secara, awalnya beliau adalah pengusaha sayuran pantas saja usaha yang direkomendasikan adalah bisnis sayuran, ini adalah tipikal orang yang konsisten dengan apa yang diucapkan. Dia mengajarkan apa yang dia lakukan, menunjukkan apa yang sudah dilalui - jadi tidak asal bunyi saja. Cerdas.

    6. Pebisnis Itu Harus Nyentrik

    Apakah pebisnis harus nyentrik? Hmm bisa iya, bisa juga tidak.. kalau tipikalnya om Bob sadino, senyentrik itu pun tentu orang akan menaruh rasa hormat ke beliau, maklum.. selain pengusaha, dia juga menjadi mentor banyak orang, dan menghasilkan pengusaha yang berbobot juga dibawah angkatannya Om BOB. Wajar bila senyentrik apaun penampilannya oran akan segan dengan beliau.. Nah kalo kita-kita, itu nafsi-nafsi saja.. ingin nyentrik silahkan, tidak juga ndak ada masalah.

    7. Bisnis Itu Hanya Modal Dengkul, Bahkan Jika Anda Tidak Punya Dengkul – Pinjam Orang Dengkul Lain

    Banyak peserta di sesi Tanya jawab mengeluhkan tentang keterbatasan modal yang dimiliki, lalu apa kata om Bob tentang ini, dia berujar; "mau gak kira-kira kalo dengkulnya dibeli 500juta..? tidak mau kan, berarti Anda punya modal 1 milyar dengan 2 dengkul Anda, :-) " kurang lebih begitu.. ** Begitulah karakter Om Bob yang Nyentrik, ‘menyesatkan’ bagi sebagian orang yang hanya menangkap apa yang diucapkan tapi bukan apa yang ingin disampaikan, beruntunglah orang yang disesatkan beliau kejalan kebaikan kemudian menjadi entrepreneur, dan sukses. Jika gagal, maka wajib menghabiskan kegagalan itu hingga hanya berhasil yang bersisa. Ada satu statemen yang menarik yang patut Anda catat. Suatu ketika di solo, ada peserta yang bertanya.. “Bisnis apakah yang Prospektif Om Bob ..? dia menjawab “Bisnis yang prospektif adalah bisnis yang ‘dibuka’ bukan ditanyakan terus.. :-D” sangat singkat namun mengena… ketika ditanya, berapa kekayaan om Bob saat ini?, dengan nyantai dia akan menjawab, tidak tahu.. yang jelas banyak, saya saja gak pernah ngitung... jujur saya juga kagum dengan semangat beliau menyebarkan entrepreneurship dikalangan pemuda.. semoga berkenan.

    ***
    Tapi sedikit mengutip perkataan Mario Teguh yaitu: "Itu contoh kecil dari orang yang berpendidikan rendah, apalagi yang berpendidikan tinggi. tuntutlah ilmu sampai ke negeri China".
     
    sumber: https://id-id.facebook.com/notes/ade-ubaidil/-7-fakta-menyesatkan-ajaran-bob-sadino-dalam-bisnis-yang-wajib-anda-tahu/535533959801023

    Ini Kata-Kata Bijak Bob Sadino yang Jadi Inspirasi Bisnis


    Liputan6.com, Jakarta - Bob Sadino, pengusaha nyentrik yang selalu bercelana pendek di atas lutut meninggal dunia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, pada Senin (19/1/2015) lalu. Dikabarkan, Bob Sadino meninggal dunia karena penyakit komplikasi, salah satunya adalah gagal ginjal.

    Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, begitulah pepatah mengatakan. Dalam hal ini, Bob Sadino akan dikenang sebagai orang baik yang selalu memotivasi orang lain lewat kata-kata bijaknya untuk sukses juga dalam hidup seperti dirinya.

    Semasa hidupnya, Bob Sadino kerapkali mengisi seminar untuk para pengusaha, baik yang telah cukup lama ataupun baru merintis. Dalam acara-acara tersebut Bob Sadino sering mengeluarkan kata-kata bijaknya unuk menjadi sukses. Selain di seminar, kata-kata bijak tersebut juga sering diucapkannya dalam momen lain.

    Kata-kata bijak ini menjadi pedoman bagi mereka yang bergerak di bidang bisnis. Meskipun memang, beberapa kata-kata bijak Bob Sadino terkesan terlalu menyederhanakan masalah.

    Misalnya, dalam salah satu kesempatan Bob Sadino pernah berkata "jika ingin bahagia, jangan jadi karyawan." Tentu, kalimat tersebut terkesan terlalu menyederhanakan masalah. Bahagia atau tidaknya seseorang tidak selalu bergantung pada pekerjaan apa yang sedang dilakukannya.

    Selain itu, dalam kesempatan lain, Bob Sadino juga pernah berkata, "Kalau ingin kaya, bisnis sayuran." Tentu hal ini juga tidak selalu benar. Tetapi sebenarnya tidak terlalu aneh, sebab semasa hidupnya Bob Sadino memang pernah berbisnis sayuran.

    Meskipun terkesan terlalu menyederhanakan masalah, bukan berarti kata-kata bijak Bob Sadino dalam hal bisnis tidak benar. Bahkan, seringkali apa yang diucapkannya memang hal yang masuk akal.

    Berikut adalah kata-kata bijak Bob Sadino dalam bisnis yang dapat Anda jadikan inspirasi:
     
    1. "Pebisnis itu harus nyentrik"

    2. "Bisnis itu hanya modal dengkul. Bahkan jika Anda tidak punya dengkul, pinjam dengkul orang lain"

    3. "Orang 'pintar' biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satu pun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang 'bodoh' mungkin hanya punya satu ide dan satu itu lah yang menjadi pilihan usahanya"

    4. "Sebagian besar orang 'pintar' sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang 'bodoh' tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha"

    5. "Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga"

    6. "Banyak orang 'bodoh' yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Di lain sisi, kebanyakan orang 'pintar' malas untuk berkerja keras dan sok cerdas"

    7. "Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jerih payah diri sendiri, tanpa campur tangan Tuhan. Mengingat Tuhan adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal"

    8. "Keberhasilan itu adalah sebuah titik kecil yang berada di puncak segunung kegagalan. Maka kalau mau sukses, carilah kegagalan sebanyak-banyaknya"

    9. "Cukup satu langkah awal. Ada kerikil saya singkirkan. Melangkah lagi. Bertemu duri saya sibakkan. Melangkah lagi. Terhadang lubang saya lompati. Melangkah lagi. Berjumpa api saya mundur. Melangkah lagi. Berjalan terus dan mengatasi masalah"

    10. "Orang 'pintar' merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya, termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang 'bodoh' merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil"

    11. "Orang 'pintar' menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang 'bodoh' berpikir, dia pun bisa berbisnis"

    12. "Orang 'pintar' menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang 'bodoh' berpikir sederhana, yang penting produknya terjual"

    13. "Orang 'Pintar' sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang 'bodoh'? Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya"

    14. "Orang 'pintar' dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang 'bodoh' mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja"

    15. "Orang 'pintar' merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang 'bodoh' seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut"

    16. "Banyak orang tanya, 'bisnis apa yang bagus?' Jawabnya, 'Bisnis yang bagus adalah yang di buka, bukan di tanya terus!'"

    ‎17. "Berhentilah membuat rencana! Melangkahlah!"

    18. "jika ingin bahagia, jangan jadi karyawan"

    19. "Jadi orang sukses harus cari kegagalan, karena kegagalan akan membuat kita belajar untuk masa depan"

    20. "Dalam berbisnis, jangan terlalu memikirkan sukses. Kalau terlalu banyak memikirkan sukses, bekerja pasti dalam tekanan, tidak rileks sehingga hasil kerja tidak akan bagus. Santai saja, hilangkan semua beban, ingat sandaran itu tadi, kemauan, komitmen, keberanian mengambil peluang, pantang menyerah dan selalu belajar pada yang lebih pintar serta selalu bersyukur"

    sumber: http://bisnis.liputan6.com/read/2163477/ini-kata-kata-bijak-bob-sadino-yang-jadi-inspirasi-bisnis?p=2

    5 Alasan Kuat Mengapa Banyak Orang Kesusahan Jadi Kaya

    Beberapa waktu lalu, saya memperoleh imel dari salah satu rekan saya, Brian Tracy. Dalam imel itu, Brian Tracy menuturkan tentang 5 alasan mendasar mengapa kebanyakan orang tidak menjadi kaya hingga akhir hayatnya.
    Apa sajakah 5 alasan mendasar yang bikin kebanyakan orang tak jadi kaya hingga akhir hayatnya?

    1. Enggan Merubah Lingkungan
    Umumnya orang yang hidup rata-rata tumbuh pada lingkungan yg tidak mensupport untuk kaya ; tidak sering bersua serta tak mengetahui orang kaya. Saat sekolah juga tak mempunyai kenalan rekan dari keluarga kaya. Mereka tak temukan role jenis seperti apa orang kaya itu. Jadi kaya jadi suatu mimpi yang jauuh, bahkan juga merasa impossible dalam benak orang yang tumbuh pada lingkungan rata-rata.

    Kenyataannya anak-anak orang kaya relatif lebih gampang untuk turut jadi kaya saat besarnya, jumlahnya semakin banyak dibanding anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang biasa-biasa saja lalu jadi kaya saat besarnya.

    Mesti disadari, bahwa lingkungan mempunyai dampak yang penting pada nasib serta hari esok kita. Kita memanglah tak dapat pilih dilahirkan pada lingkungan seperti apa, tetapi seiring berjalannya waktu kita mempunyai pilihan untuk merubah lingkungan yang mensupport yang dimimpikan kita.

    Keengganan merubah lingkungan jadi argumen pertama mengapa beberapa besar orang tak kaya.

    Bila kita terasa lingkungan kerja kita tak mensupport untuk kaya, gantilah selekasnya. Bila kita terasa lingkungan pergaulan kita semakin banyak menyebarkan aura negatif (pesimis) dibanding positif (optimis), gantilah saat ini juga. Dapatkan langkahnya serta kerjakan.

    2.Tak Mengambil keputusan serta Memiliki komitmen

    Alasan ke-2 mengapa umumnya orang tak jadi kaya yaitu lantaran mereka tak pernah mengambil keputusan serta memiliki komitmen dengan cara serius untuk jadi kaya.

    Kita seluruhnya mempunyai hasrat untuk kaya, beberapa dari kita sudah membaca banyak buku serta artikel bagaimanakah jalan jadi kaya, sebagiannya juga turut seminar berulang-kali bagaimanakah agar hidup dapat berlimpah harta, berdoa siang malam agar hidup semakin kaya.

    Namun satu hal fundamental yang kerapkali kita lupakan yaitu prinsip serta ketekunan untuk lakukan beberapa hal yang butuh dikerjakan untuk jadi kaya. Kita masih tetap lakukan beberapa cara yang sama dengan tempo hari yang dapat dibuktikan bikin hidup kita begini-begini saja.

    Saat kita mengambil keputusan untuk jadi kaya, jadi mengerti konsekwensinya serta prinsip untuk telaten menggerakkan beberapa hal yang butuh dikerjakan untuk jadi kaya seberapapun pengorbanannya. That’s it!

    “Saya mengambil keputusan untuk jadi kaya serta siap dengan semua prinsip serta meniti pengorbanan yang dibutuhkan! ” (cobalah teriakkan kalimat ini sekuatnya, abaikan kebengongan orang di seputar Anda)

    3.Memikirkan bahwa Saat Paling baik yaitu Besok
    Waktunya kurang pas untuk mengawali usaha. Pasar lagi lesu. Rupiah melemah. BBM naik. Harga emas lagi turun selalu. Laju ekonomi melambat. Persaingan semakin sengit, kita tunggulah mereda dahulu. Dlsb.

    Alasan ketiga mengapa umumnya orang tak jadi kaya yaitu sukai tunda (procrastination), memikirkan bahwa saat paling baik yaitu besok serta besok.

    Telah ganti lingkungan, telah mengambil keputusan untuk kaya, tetapi senantiasa temukan argumen untuk tunda beberapa hal yang butuh dikerjakan untuk jadi kaya. Sebagiannya lalu baru tersadar saat usia telah senja serta tenaga semakin renta. Sebagiannya yang lain tak juga tersadar hingga akhir hayatnya.

    Kerjakan apa yang harus kita kerjakan hari ini, seremeh apa pun itu.

    4. Ketidakberdayaan dalam Menunda Kesenangan
    Argumen ke empat mengapa beberapa besar orang pensiun dalam keadaan kekurangan yaitu lantaran ketidakmampuan dalam tunda kesenangan, inability to delay gratification.

    Tak dapat mengelola godaan yang demikian besar untuk menggunakan tiap-tiap rupiah yang dihasilkan, bahkan juga sebagiannya belanja melebihi kekuatan dengan pertolongan kartu credit serta KTA. #dooh

    Malas untuk tunda kesenangan ; membagikan rupiah yang dihasilkan untuk tabungan, untuk diinvestasikan, untuk meningkatkan usaha.

    Orang tak dapat jadi kaya bila tak bersedia tunda kesenangan serta mendisiplinkan diri. Orang tak mungkin saja meraih kemandirian finansial bila tak berlatih serta jadikan kekuatan budgeting juga sebagai suatu rutinitas seumur hidup.

    Berlatihlah untuk tunda kesenangan ; bila mau mempunyai suatu hal, lakukan untuk menabung dahulu dalam sekian waktu. Jauhi sekuat tenaga untuk beli barang konsumtif dengan hutang.

    5. Kurang Berfikir Panjang (lack of time perspective)

    Argumen ke lima mengapa beberapa orang tak jadi kaya s/d akhir hayatnya yaitu kurangnya kekuatan untuk memikirkan dalam perspektif yang panjang.

    Hal semacam ini didefinisikan juga sebagai perspektif saat sebagai pertimbangan orang saat berencana aktivitas keseharian serta saat bikin ketentuan utama dalam kehidupannya. Seberapa jauh orang memproyeksikan hari esok saat mereka mengambil keputusan apa yang bakal mereka kerjakan atau tak kerjakan di saat saat ini.

    Orang rata-rata cuma memikirkan dalam perspektif hari ini atau mungkin saja paling jauh hingga bln. depan, kurang mengasah kekuatan bahwa apa yang kita kerjakan hari ini dapat bakal berefek pada saat yang panjang.

    Misal paling riil dari hal semacam ini yaitu umumnya orang tak memikirkan serius untuk mempersiapkan dana pendidikan anaknya sejak dari kelahirannya atau tak pernah menganggap bahwa dana haji dapat disediakan mulai hari ini.

    Orang kaya ikhlas berkorban dalam periode pendek untuk memperoleh hasil yang tambah baik dalam periode panjang.

    Agar jadi kaya, mari menghilangkan 5 argumen diatas : ganti lingkungan, putuskan dengan cara serius untuk kaya serta memiliki komitmen, bersegera take action, siap tunda kesenangan serta membiasakan diri untuk memikirkan dalam perspektif yang panjang.

    sumber: http://log.viva.co.id/frame/read/aHR0cDovL3BhamV3YXcuYmxvZ3Nwb3QuY29tLzIwMTUvMDEvNS1hbGFzYW4ta3VhdC1tZW5nYXBhLWJhbnlhay1vcmFuZy1rZXN1c2FoYW4tamFkaS1rYXlhLmh0bWw=

    Senin, 10 November 2014

    Jika Anda Ingin Kaya, Silakan Baca Tulisan Ini


    Menjadi kaya barangkali merupakan sebuah harapan yang digenggam oleh banyak orang. Sebab, tanpa kekayaan dan penghasilan yang cukup melimpah, kita bisa termehek – mehek mengikuti kenaikan harga barang yang terus meliuk-liuk.

    Tanpa rezeki yang terus mengalir, kredit sepeda motor atau mobil yang kita ambil bisa macet di tengah jalan. Atau mungkin kita dipaksa untuk terus nebeng di rumah kontrakan (dan sudah rumah kontrakan, sempit lagi. Doh.) Dan ah, bukankah anak-anak kita butuh pendidikan yang layak. Tanpa nafkah yang memadai, bagaimana kita yakin mereka akan punya masa depan yang kinclong?

    Jadi apa kiat dan rahasia menjadi kaya, kalau begitu? Oke, sebentar lagi jawabannya akan dengan renyah disajikan disini. Namun sebelum Anda melanjutkan membaca tulisan ini, silakan tundukkan kepala, dan awali hari kerja Anda di pagi ini dengan doa : mudah-mudahan rezeki yang penuh keberkahan akan terus mengalir dalam diri kita semua.

    Studi mengenai wealth management (atau cara mengelola kekayaan) menyimpulkan bahwa ada satu rahasia besar namun sangat simpel yang membuat orang bisa menjadi kaya raya. Mereka menyebut cara simpel itu sebagai : leverage (daya ungkit). Atau : X Factor. Dalam bahasa kita disebut sebagai : faktor kali.

    Tiga contoh sederhana berikut akan menjelaskan apa itu faktor kali. Tempo hari ada anak muda lulusan D-3 usia 35-an yang membuka lapak untuk berjualan es cendol di sudut pusat perbelanjaan. Ia bercerita keuntungan bersih dari jualan es cendol itu sebulan mencapai 3 juta. Hmm. Lumayan. Ya sangat lumayan pak, sebab saya punya 10 lapak, ujarnya dengan sumringah.

    10 lapak itu adalah faktor kali. Dan dengan itu, dalam sebulan ia bisa menggenggam 30 juta dengan mulus.

    Contoh lain adalah rekan saya yang punya usaha menyediakan jasa outsourcing tenaga office boy atau OB (sekarang mana ada office boy yang jadi karyawan permanen). Untuk setiap tenaga OB ia meminta fee 50 ribu/bulan dari kliennya – sebuah angka yang lazim diberlakukan oleh penyedia jasa outsourcing. Angka yang cukup kecil sebenarnya. Cuman, teman saya itu memasok 1000 tenaga OB setiap bulannya, di berbagai pabrik yang tersebar di Jabodetabek.

    1000 orang OB itu adalah faktor kali. Dan dengan faktor kali ini, rekan saya itu mendapat 50 juta per bulan dengan mulus. Alhamdulilah.

    Contoh terakhir adalah anak muda yang kena PHK, dan kemudian mendirikan usaha berjualan obat herbal secara online. Melalui web yang melintas batas dunia maya, ia berhasil menjaring 100-an reseller yang menjadi partner usahanya.

    100-an reseller itu adalah faktor kali. Dan inilah yang membuat anak muda penjual obat herbal itu bisa mendapat keuntungan bersih Rp 25 juta per bulan (dan oh ya ia juga baru saja membeli Kijang Innova terbaru).

    Dari tiga contoh diatas menjadi jelas apa itu FAKTOR KALI. Inilah sebuah faktor yang membuat rezeki kita bisa meningkat berkali-kali lipat; tanpa kita harus melipatgandakan tenaga/diri kita. Sebab dengan faktor kali, kita memanfaatkan orang lain untuk menggelembungkan kekayaan kita.

    Nah sayangnya, bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan, Anda tidak bisa menemukan faktor kali itu. Bahkan sebaliknya, Anda-lah yang dimanfaatkan (atau di-eksploitasi) untuk menjadi faktor kali bagi juragan pemilik bisnis dimana Anda bekerja. Juragan pemilik bank misalnya, bisa tidur leyeh-leyeh namun bisnisnya tetap terus mekar. Sebab ribuan kantor cabang dan karyawan didalamnya, telah menjadi faktor kali yang melipatgandakan kekayaan sang juragan besar itu.

    Wah jadi gimana dong kalau ternyata selama ini kita ternyata hanya menjadi “korban faktor kali”.

    Jawabannya memang sudah jelas : kita hanya akan bisa mendapatkan faktor kali, jika kita punya usaha atau bisnis sendiri. Menjadi entrepreneur atau berwirausaha. Atau ya seperti contoh diatas tadi : berjualan es cendol, atau menyediakan jasa OB atau membikin usaha penjualan obat herbal. (Kiat untuk pindah jalur dari karyawan menjadi juragan, bisa dibaca DISINI).

    FAKTOR KALI. Inilah sebuah prinsip yang sangat simple, namun memiliki peran yang amat besar untuk membawa kekayaan dalam kehidupan kita.

    Silakan terapkan prinsip sederhana itu, dan mudah-mudahan Anda semua bisa menjadi orang-orang KAYA : kaya harta, kaya ilmu dan kaya pahala.

    (Yodhia Antariksa)

    sumber: http://www.pkspiyungan.org/2014/11/jika-anda-ingin-kaya-silakan-baca.html

    Kapan Sebaiknya Pindah Kuadran : Dari Karyawan Menjadi Juragan ?



    Pindah kuadran adalah sebuah istilah yang menjadi sangat populer lantaran buku best seller bertajuk Rich Dad, Poor Dad karangan Robert T. Kiyosaki. Isitilah ini merujuk pada perpindahan dari kuadran seorang pekerja (employee) bergerak menuju kuadran business owner atau entrepreneuer. Dari seseorang yang tiap bulan menerima gaji secara konstan, bergerak menjadi manusia mandiri yang create their own wealth.
    Pilihan menjadi entrepreneur kini tampaknya memang tengah digandrungi banyak orang; dan ini tentu saja merupakan sebuah hal yang layak disukuri. Sebab seperti yang pernah saya tulis disini, negeri tercinta ini masih sangat membutuhkan barisan manusia mandiri yang berani mengambil resiko menjadi wirausahawan/wati. Sebuah keberanian untuk meretas jalan panjang demi meraih apa yang acap disebut sebagai financial freedom.
    Pertanyaannya adalah : jika kita sudah terlanjur menjadi pekerja kantoran (employee) dan mungkin kini tengah menikmati sebuah comfort zone, apa yang mesti harus dilakukan untuk pindah kuadran? Dan kapan sebaiknya pindah kuadran? Tak ada jawaban baku disini, sebab seperti kata pepatah “ada banyak jalan menuju Roma”. Demikian pula, mungkin ada seribu jalan untuk melakoni proses perpindahan kuadran. Namun disini, saya hendak mendedahkan sejumlah catatan yang mungkin layak digenggam.
    Catatan yang pertama adalah ini: kalaulah kelak Anda ingin menyodorkan resignation letter dan bertekad bulat full time menjalani wirausaha, pastikan bahwa probalilitas keberhasilan bisnis/usaha yang akan Anda tekuni itu setidaknya berada pada kisaran angka 70 %. Aturan inilah yang dulu saya terapkan ketika pada tahun 2004, saya memutuskan pindah kuadran, dan secara full time menekuni usaha secara mandiri. Saya akhirnya berani mengambil keputusan itu, setelah berdasar analisa yang saya lakukan, saya berkeyakinan bahwa usaha yang akan saya tekuni ini memiliki probabilitas 70 % akan berhasil (dan sejauh ini, alhamdulilah, estimasi itu tidak meleset).
    Pertanyaan berikutnya : dari mana angka 70 % diperoleh? Ya tentu saja berdasar analisa atas potensi pasar. Ini bisa dilakukan dengan cara observasi, survei secara sederhana, ataupun berdasar kisah kegagalan/keberhasilan serta pengalaman dari para pelaku bisnis di bidang yang akan Anda tekuni. Angka itu juga mesti memperhatikan kapabilitas internal Anda dalam menjalani usaha yang akan ditekuni.
    Namun pada akhirnya, semua juga terpulang pada your personal judgement. Kalau Anda bermental penakut, meskipun secara rasional hasil analisa menunjukkan bahwa 70 % usaha ini akan berhasil, namun mungkin hati kecil Anda akan selalu bilang “rasanya peluang bisnis ini untuk berhasil kok cuman 20 % saja….”. Wah, kalo begini mindset sampeyan, ya ndak jalan-jalan. Kalu begini, berarti mindset Anda yang perlu direparasi (silakan baca tulisan INI untuk merefresh mindet Anda).
    Catatan yang kedua adalah ini : kalaulah Anda belum berani full time pindah kuadran, maka tentu saja Anda bisa menjalani apa yang saya sebut sebagai “double kuadran”. Bekerja di kantor tetap dilakoni, namun perlahan-lahan mulai merintis bisnis secara mandiri. Kelak kalau roda bisnis itu ternyata bisa memberikan income yang memadai, baru kemudian mengajukan pengunduran diri dari kantor. Model semacam ini menjanjikan rute yang lebih aman, dan sudah banyak kisah keberhasilan yang tersaji melalui rute double kuadran ini. Melalui smart management atau juga melalui pengaturan waktu yang tepat, pilihan model ini rasanya sangat layak untuk dicoba.
    Pertanyaan terakhir : lalu apa dong kira-kira bisnis yang harus saya lakukan? Nah ini pertanyaan yang mudah dijawab. Silakan saja datang ke toko buku Gramedia (yang ada di Matraman, Jakarta merupakan the best choice) atau toko buku terdekat di kota Anda. Disitu Anda akan segera melihat puluhan atau mungkin ratusan buku tentang beragam peluang bisnis : mulai dari kiat bisnis waralaba, peluang bisnis baju koko, bisnis rumah makan mak nyus, bisnis jualan obat, bisnis secara online, bisnis jualan air isi ulang, bisnis properti…….semua ada, tinggal dipilih-pilih mana yang paling cocok menurut Anda.
    Akhir kata, selamat mencoba dan berjuang menjadi juragan. Yang penting jangan terlalu banyak dipikir-pikir. Just do it now. Take action. Dan biarkan waktu yang menilai apakah kita akan berhasil, atau masih harus terus berjuang. Goodluck, my friends.

    sumber: http://strategimanajemen.net/2008/09/08/kapan-sebaiknya-pindah-kuadran/

    Sang Penyembelih Sapi itu Memperoleh Uang Sebesar Rp 16 Milyar

    bull.jpgMinggu lalu dalam sebuah penerbangan malam hari dari Banda Aceh – Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan bapak tua berusia 60-an tahun. Namanya pak Zainal Abidin. Penampilannya sungguh sangat bersahaja. Bajunya tampak lusuh dengan peci hitam tua menghias kepalanya. Ia bilang kalau hingga beberapa tahun lewat, ia menekuni pekerjaan sebagai seorang penjagal dan penyembelih sapi. Ya, di hari-hari biasa atau juga dalam setiap hari raya Idul Qurban tiba, ia dengan setia menekuni profesinya sebagai sang penyembelih sapi.
    Ia bercerita kalau ia hendak berangkat umroh ke tanah suci dengan fasilitas pelayanan super VIP a la hotel bintang lima. Terus terang saya agak terkejut dengan pengakuannya ini. Dan sungguh saya lebih terkejut dan hampir terloncat dari kursi pesawat (untung saya pakai sabuk pengaman), saat ia bilang kalau baru saja ia mendapat rezeki dari Yang Diatas sebesar Rp 16 milyar. What?!! 16 milyar rupiah? Ini bukan uang yang sedikit lho pak. Bisa buat beli helikopter.
    Lalu dari mana pak Zainal memperoleh rezeki nomplok sebesar itu? Mari kita simak kisahnya. Sejak tahun 80 hinggan 90-an lalu, Pak Zaenal bilang kalau ia selalu rajin menyisihkan penghasilannya untuk membeli tanah sepetak demi sepetak. Dan kita tahu, dalam era konflik saat itu harga tanah di bumi Rencong relatif murah. Namun pak Zainal ternyata punya keyakinan positif : suatu saat bumi Naggroe Atjeh Darussalam, tempatnya berpijak, pasti akan dilimpahi kemakmuran. Begitulah dengan keyakinan itu, ia pelan-pelan selalu menyisihkan tabungannya buat membeli tanah dipinggiran desa penuh rawa hingga seluas 8000 meter persegi. Rata-rata harganya hanya Rp 20,000 per meter persegi.
    Ternyata visi investasi Pak Zainal (wah Pak Zainal sendiri mungkin tak tahu apa itu visi investasi….) benar dan sangat akurat. Selepas tsunami dan kesepakatan damai, uang trilyunan rupiah mengalir ke Serambi Mekah. And thanks God, kebetulan tanah rawa punya Pak Zainal masuk area perluasan jalan raya tembus antar kabupaten. Begitulah, akhirnya disepakati tanah seluas 8000 meter persegi itu dibeli oleh Pemda Aceh seharga Rp 2,000,000,- per meternya. Alhasil, fulus sebesar Rp 16 milyar dengan sukses masuk ke kantong baju Pak Zainal.
    Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kisah dramatis ini? Setidaknya ada tiga poin pelajaran penting tentang financial planning yang bisa kita petik dari kisah Sang Penyembelih Sapi ini.
    Poin yang pertama adalah sebuah konsep yang dalam wacana wealth management disebut sebagai exponential income growth. Atau pertumbuhan pendapatan secara eksponensial. Pak Zainal membeli tanah dengan harga Rp 20 ribu dan kemudian menjualnya Rp 2 juta. Ini artinya naik seratus kali lipat atau 10,000 % !! And sorry to say, kalau Anda termasuk kelas pekerja kantoran, Anda hampir tak mungkin bisa meraih pertumbuhan pendapatan secara eksponensial ini. Sebab, rata-rata kenaikan gaji karyawan per tahun hanyalah 10 % (ini pun sudah tergerus oleh laju inflasi). Kalaulah gaji Anda 10 juta per bulan, Anda perlu waktu 133 tahun untuk mengumpulkan uang sebesar 16 milyar (dan saat itu, Anda pasti sudah berubah menjadi tulang belulang di alam baka sana). Poinnya jelas : untuk memperoleh exponential income growth, Anda mesti memiliki bisnis sendiri atau melakukan investasi atas aset produktif (seperti tanah, properti, atau saham).
    Poin pelajaran yang kedua adalah apa yang kini lazim disebut sebagai passive income. Bahasa kerennya : membiarkan uang bekerja untuk Anda, dan bukan Anda bekerja mati-matian untuk mencari uang. Pak Zainal bercerita, kalau uangnya tersebut sebagian telah disimpan di deposito, sebagian dibagikan kepada anak-anaknya, dan sebagian diinvestasikan kembali dalam bentuk properti dan tanah (dan sebagian lagi dipakai untuk umroh dengan fasilitas super VIP….). Kalaulah yang didepositokan 10 milyar, dengan asumsi bunga 1% per bulan, maka tiap bulan Pak Zaenal bisa menerima uang sebesar Rp 100 juta……dan uang ini akan terus mengalir tanpa dirinya bekerja. Sepanjang hari, pak Zaenal bisa tidur leyeh-leyeh atau menggembalakan sapi di pinggir sawah. Sementara sebagian dari kita, sekedar untuk mendapatkan 5 juta per bulan pun harus bekerja keras, berangkat dari rumah jam 6 pagi, pulang selepas Isya. Dan dikantor dimarahin bos lagi. Sementara dijalanan terjebak macet sambil kena damprat kondektur metromini……(duh Gusti, nasib, nasib….).
    Poin pelajaran yang terakhir adalah apa yang disebut sebagai financial freedom atau kebebasan finansial. Dengan uang sebesar 16 milyar rupiah, pak Zaenal tak perlu risau lagi tentang masa depan anak dan cucunya hingga tujuh turunan. Ketika harga BBM terus melambung, banyak orang mengeluh, protes dan membakar ban dijalanan (emang setelah ban dibakar, sim salabim, harga BBM bisa kembali turun?). Mungkin akan jauh lebih baik jika energi untuk mengeluh dan protes itu disalurkan untuk meningkatkan income growth guna meraih financial freedom – persis seperti yang ditunjukkan pak Zaenal itu. Dengan financial freedom, kita tak perlu lagi panik setiap kali diguncang oleh kenaikan harga bahan pokok dan BBM. Kelak, ketika harga bensin menjadi Rp 20,000 per liter, pak Zaenal mungkin akan tetap tenang-tenang saja……bisa tetap tidur leyeh-leyeh sambil menggembalakan sapi di pinggir sawah.
    Itulah tiga poin pembelajaran finansial yang bisa kita petik dari sang Penyembelih Sapi dari Aceh ini. Malam kian larut, dan dari balik kabin pesawat, lamat-lamat terdengar suara mesin turbo jet Boeing seri 737 yang kami tumpangi. Ketika saya menoleh ke sebelah, ternyata pak Zaenal telah tertidur lelap, sementara pecinya yang lusuh agak miring ke kanan. Saya melihat segaris senyum tersungging di bibirnya. Ah, malam itu pak Zenal mungkin tengah terlelap dalam buaian mimpi yang indah. Inilah sepotong impian tentang hidup yang berkelimpahan dengan rasa syukur yang terus mengalir tanpa henti……

    sumber: http://strategimanajemen.net/2008/06/16/sang-penyembelih-sapi-itu-memperoleh-uang-sebesar-rp-16-milyar/